Total Tayangan Laman

Minggu, 22 Mei 2016

Ciri Kemampuan Kepemimpinan



(Leadership Competency)

Untuk mengukur tingkat kemampuan kepemimpinan seseorang dalam organisasi, bisa menggunakan 20 indikator berikut, yaitu:

1.       Balancing personal life and work (Menyeimbangkan kehidupan pribadi dengan pekerjaan).

2.       Being a quick learner (merupakan pembelajar yang cepat, yakni cepat belajar terhadap  pengetahuan teknis dan bisnis yang baru).

3.       Building collaborative relationships (mampu membangun hubungan kolaboratif yang produktif dengan rekan kerja dan dengan pihak luar).

4.       Career management (menggunakan taktik manajemen karir yang efektif, termasuk
mentoring, hubungan profesional, dan saluran untuk umpan balik).

5.       Change management (menggunakan strategi yang efektif untuk memfasilitasi perubahan organisasi, inisiatif dan resistensi mengatasi perubahan).

6.       Compassion and sensitivity (rasa kasih sayang dan sensitivitas, menunjukkan minat yang tulus pada orang lain dan kepekaan terhadap kebutuhan karyawan).

7.       Composure (ketenangan, menunjukkan pengendalian diri yang baik dalam menghadapi situasi yang sulit).

8.       Confronting problem employees (bertindak tegas dan adil ketika berhadapan dengan karyawan yang bermasalah).

9.       Culturally adaptable (kemampuan beradaptasi dalam budaya, yakni mampu menyesuaikan dengan harapan sesuai etnis atau daerah masing-masing orang).

10.   Decisiveness (ketegasan, yakni lebih suka melakukan atau bertindak dengan berpikir berdasarkan situasi yang berkembang).

11.   Employee development (mengembangkan kemampuan karyawan, sebagai pelatih dan mendorong karyawan untuk berkembang dalam kariernya).

12.   Inspiring commitment (memberikan komitmen inspiratif, yakni memotivasi orang lain untuk melakukan yang terbaik sesuai kemampuan mereka).

13.   Leading employees (memimpin karyawan, yakni membangkitkan, memotivasi, dan mengembangkan karyawan).

14.   Participative management (manajemen yang partisipatif, yakni melibatkan orang lain, mendengarkan, dan membangun komitmen).

15.   Putting people at ease (menempatkan orang nyaman, menampilkan kehangatan dan rasa humor yang baik terhadap orang lain).

16.   Respect for differences (menghormati perbedaan, efektif bekerja dengan memperlakukan orang-orang dari berbagai latar belakang secara adil dan baik meskipun berbeda budaya, jenis kelamin, usia, dan latar belakang pendidikan).

17.   Self-awareness (kesadaran diri, yakni memiliki gambaran yang akurat tentang kekuatan dan kelemahan dirinya, dan bersedia untuk meningkatkannya).

18.   Strategic perspective (memiliki perspektif strategis, dengan memahami sudut pandang manajemen yang lebih tinggi dan efektif menganalisa masalah yang kompleks).

19.   Strategic planning (perencanaan yang strategis, dengan mengembangkan tujuan dan strategi jangka panjang, serta menerjemahkan visi ke dalam strategi bisnis yang realistis).

20.   Taking initiative (mengambil inisiatif, yakni mengambil alih dan mengkapitalisasi peluang).

(sumber: http://www.ccl.org/Leadership/pdf/assessments/LGISampleFeedbackReport.pdf)

Indeks Daya Saing Global



Indeks daya saing global (The Global Competitiveness Report) diterbitkan oleh World Economic Forum. Sejak tahun 2004, Global Competitiveness Report menempati urutan negara berdasarkan Indeks Daya Saing Global, yang dikembangkan oleh Xavier Sala-i-Martin dan Elsa V. Artadi. Sebelum itu, jajaran makroekonomi didasarkan pada Indeks Pembangunan Pertumbuhan Jeffrey Sachs dan jajaran ekonomi mikro didasarkan pada Indeks Daya Saing Bisnis Michael Porter. Competitiveness Index global mengintegrasikan ekonomi makro dan aspek mikro/bisnis daya saing menjadi sebuah indeks tunggal.

Laporan ini menilai kemampuan negara untuk memberikan tingkat tinggi kemakmuran bagi warganya. Hal ini pada gilirannya tergantung pada seberapa produktif negara menggunakan sumber daya yang tersedia. Oleh karena itu, Indeks Daya Saing Global mengukur seperangkat institusi, kebijakan, dan faktor-faktor yang mengatur kondisi dan pencapaian saat ini dan jangka menengah secara berkelanjutan dalam kemakmuran ekonomi.

Ada dua belas pilar daya saing yaitu:

  1. institutions (kelembagaan)
  2. appropriate infrastructure  (infrastruktur yang tepat)
  3. a stable macroeconomic framework (kerangka ekonomi makro yang stabil)
  4. good health and primary education (kesehatan yang baik dan pendidikan dasar)
  5. higher education and training  (pendidikan dan pelatihan yang lebih tinggi)
  6. efficient goods markets  (pasar yang efisien)
  7. efficient labor markets  (pasar tenaga kerja yang efisien)
  8. developed financial markets (pasar keuangan yang maju)
  9. the ability to harness the benefits of existing technologies (kemampuan untuk memanfaatkan keuntungan dari teknologi yang sudah ada)
  10. and its market size, both domestic and international (ukuran pasar, baik domestik dan internasional)
  11. by producing new and different goods using the most sophisticated production processes (memproduksi barang baru dan berbeda dengan menggunakan proses produksi yang paling canggih)
  12. innovation (inovasi)

******

Indeks Daya Saing Indonesia



Sebuah riset berusaha melakukan pengukuran daya saing Indonesia. Mereka menggunakan metode kuantitatif menggunakan sebuah indeks komposit yang juga melibatkan 49 negara lain sebagai pembanding. Indeks komposit ini, sesuai tujuannya, diberi nama Indeks Daya Saing Indonesia.

Indeks Daya Saing Indonesia mencakup sembilan komponen, yaitu:

1. Capaian dasar kesejahteraan sosial
2. Capaian makroekonomi
3. Daya dukung infrastruktur
4. Daya dukung teknologi
5. Kapabilitas inovasi
6. Kapabilitas kelembagaan
7. Kinerja dunia usaha
8. Keberlanjutan, dan
9. Kemandirian.

Masing-masing komponen selanjutnya terdiri dari beberapa subkomponen dan sejumlah indikator. Secara keseluruhan, jumlah indikator yang digunakan mencapai 95 item. Indikator-indikator tersebut berasal dari berbagai sumber, termasuk laporan-laporan resmi dari United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), United Nations Development Programs (UNDP), International Labor Organization (ILO), International Energy Agency (IEA), World Health Organisation (WHO) dan World Bank.

(Sumber:
http://www.kkdsi.ugm.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=11&Itemid=24)